📖 TERJEMAHAN AL-HIKAM
(Pendekatan Hamba pada Khaliknya)
Penerjemah: Al-Ustadz H. Salim Bahreisy
Disusun ulang untuk publikasi digital
🔹 Sepatah Kata Muqaddimah
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengisi (memenuhi) hati para walinya dengan kasih sayang-Nya, dan mengistimewakan jiwa mereka dengan memperhatikan kebesaran-Nya, serta mempersiapkan sir (rahasia) mereka untuk menerima bahan makrifat-Nya (mengenal-Nya). Maka hati nurani mereka merasa bersukaria di kebun makrifat-Nya, dan roh mereka bersukacita di alam malakut-Nya. Sir mereka berenang di lautan jabarut, maka keluar dari alam pikiran mereka berbagai permata ilmu, dan dari lidah mereka mutiara hikmah/pengertian. Maha Suci Allah yang memilih mereka untuk mendekat pada-Nya, dan mengutamakan mereka dengan kasih sayang-Nya. Maka terbagi antara salik dan majdzub, dan mencintai dengan yang dicintai, mereka tenggelam dalam cinta zat-Nya dan timbul kembali karena memperhatikan sifat-Nya.
Kemudian selawat serta salam atas junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, sumber dari semua ilmu dan nur, bibit dari semua makrifat dan sir (rahasia). Dan semoga Allah rida pada keluarga dan sahabatnya yang tetap taat mengikuti jejaknya. Aamiin.
Amma ba'du: Adapun dalam segala masa, maka ilmu tasawuf yang dahulunya atau hakikatnya ilmu tauhid untuk mengenal Allah, termasuk semulia-mulia ilmu, terbesar dan tertinggi, sebab ia sebagai intisari daripada syariat, bahkan menjadi sendi yang utama dalam agama Islam, sebab Allah telah berfirman:
Karena pengertian ilmu tauhid telah berubah nama menjadi ilmu filsafat yang sama sekali seolah-olah tidak ada hubungannya dengan akhlak dan amal usaha, maka timbul nama ilmu tauhid yang dijernihkan kembali dari sumber yang semula diajarkan dan dilakukan oleh Nabi ﷺ dan sahabatnya.
🔹 Pengertian Ilmu Tasawuf (Tauhid)
Definisi Ilmu Tasawuf (menurut Al-Junaid ra.)
- Mengenal Allah, sehingga antaramu dengan Allah tidak ada perantara (hubungan dengan Allah tanpa perantara).
- Melakukan semua akhlak yang baik menurut sunah Rasul dan meninggalkan semua akhlak yang rendah.
- Melepas hawa nafsu menurut kehendak Allah.
- Tajrid (melepas semua ikatan duniawi, tidak dimiliki oleh apa pun, juga tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali Allah).
Adapun caranya: Yaitu mengenal asmaa' Allah dengan penuh keyakinan, sehingga menyadari sifat-sifat dan af'al Allah di alam semesta.
Adapun gurunya: Nabi Muhammad ﷺ, yang telah mengajarkan dari tuntunan wahyu dan melaksanakannya lahir batin, sehingga diikuti oleh para sahabatnya radhiyallahu 'anhum.
Adapun manfaatnya: Mendidik hati sehingga mengenal zat kebesaran-Nya, sehingga berbuah kelapangan dada, dan bersih hati berbudi pekerti yang luhur menghadapi semua makhluk.
🔹 Pokok-Pokok Perjalanan (Tarekat)
Abul-Hasan Asy-Syadzili ra. berkata: Perjalanan kami terdiri atas lima dasar:
- Takwa kepada Allah lahir dan batin.
- Mengikuti sunah Rasul dalam semua perkataan dan perbuatan.
- Berpaling dari makhluk dalam kesukaan atau kesusahan.
- Rela (rida) pada Allah dalam menerima yang ringan atau yang berat.
- Kembali kepada Allah dalam suka dan duka.
Penjelasan Lebih Lanjut:
- Untuk melaksanakan takwa, harus berlaku wara' (menjauh dari yang makruh, syubhat, dan haram), dan tetap istikamah (tabah tidak berubah) dalam menaati semua perintah.
- Untuk melaksanakan sunah Rasul, harus selalu waspada dan melakukan budi pekerti yang baik (tahsinul akhlak).
- Untuk melaksanakan berpaling dari makhluk, dengan sabar dan tawakal (berserah diri pada Allah Ta'ala).
- Untuk melaksanakan rela (rida) pada Allah, dengan menerima ketentuan-Nya.
- Untuk melaksanakan kembali kepada Allah, dengan bersyukur dalam suka dan berlindung kepada-Nya dalam duka.
Dan semua ini berpokok pada lima perkara:
- Semangat yang tinggi.
- Berhati-hati dari yang haram atau menjaga kehormatan.
- Baik dalam berkhidmat sebagai hamba.
- Melaksanakan kewajiban.
- Menghargai (menjunjung tinggi) nikmat.
Maka siapa yang tinggi semangat, pasti naik tingkat derajatnya. Dan siapa yang meninggalkan larangan yang diharamkan Allah, maka Allah akan menjaga kehormatannya. Dan siapa yang benar dalam taatnya, pasti mencapai tujuan/kemuliaan-Nya. Dan siapa yang melaksanakan kewajibannya dengan baik, maka bahagia hidupnya. Dan siapa yang menjunjung nikmat, berarti mensyukuri dan akan menerima tambahan nikmat yang lebih besar.
🔹 Nasihat Para Wali
Abul-Hasan Asy-Syadzili ra. berkata: Aku dipesan oleh guruku (Abdus-Salam bin Masyisy ra.):
"Janganlah engkau melangkahkan kaki kecuali untuk sesuatu yang dapat mencapai rida Allah, dan jangan duduk di majelis kecuali yang aman dari murka Allah (yakni bukan maksiat). Dan jangan bersahabat kecuali kepada orang yang dapat membantu berbuat taat kepada Allah. Dan jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang menambah keyakinanmu terhadap Allah. Sedangkan yang demikian ini kini sangat jarang didapat."
Sayid Ahmad Al-Badawi ra. berkata: Perjalanan kami berdasarkan lima hal:
- Bersyukur kepada Allah.
- Sabar dalam menerima ujian.
- Menepati janji.
- Menanggung tugas dan derita.
- Menjaga kewajiban.
🔹 Syarat Menjadi Waliyullah
Seorang muridnya yang bernama Abdul-Aali bertanya: "Apakah syarat yang harus diperbuat oleh seorang yang ingin menjadi waliyullah?"
Jawabnya: "Seorang yang benar-benar dalam syariat ada dua belas tanda-tandanya:
- Benar-benar mengenal Allah (yakni mengerti benar tauhid dan mantap iman dan keyakinannya kepada Allah).
- Menjaga benar-benar perintah Allah.
- Berpegang teguh pada sunah Rasulullah ﷺ.
- Selalu berwudu (bila berhadats segera memperbarui wudu).
- Rela menerima hukum qada Allah dalam suka dan duka.
- Yakin terhadap janji Allah.
- Tunduk pada semua perintah Allah.
- Memandang rendah semua apa yang di tangan makhluk (manusia).
- Tetap sabar menanggung berbagai derita dan gangguan orang.
- Rajin menaati perintah Allah.
- Kasih sayang terhadap semua makhluk Allah.
- Tawaduk (merendah diri) terhadap yang lebih tua, atau lebih muda.
- Menyadari selalu bahwa setan itu musuh utama. Sedangkan sarang setan itu dalam hawa nafsumu dan selalu berbisik untuk memengaruhimu.
🔹 Nasihat Ahmad Al-Badawi kepada Abdul-Aali
Kemudian Ahmad Al-Badawi melanjutkan nasihatnya:
"Hai Abdul-Aal, berhati-hatilah daripada cinta dunia. Sebab itu bibit dari segala dosa, dan dapat merusak amal saleh."
Orang boleh kaya dunia, tetapi Nabi ﷺ melarang agar jangan cinta dunia, seperti Nabi Sulaiman as. dan para sahabat yang kaya. Kita harus menundukkan dunia, dunia tidak boleh diletakkan dalam hati.
Hai Abdul-Aal, kasihanilah anak yatim dan berikan pakaian pada orang yang tidak berpakaian, dan beri makan pada orang yang lapar, dan hormatilah tamu dan orang gharib (perantau), semoga dengan begitu engkau diterima oleh Allah. Dan perbanyaklah zikir, jangan termasuk golongan orang yang lalai di sisi Allah. Dan ketahuilah bahwa satu rakaat di waktu malam lebih baik daripada seribu rakaat di waktu siang, dan jangan mengejek bala/musibah yang menimpa seseorang. Dan jangan berkata gibah atau namimah (menyebut kejelekan orang atau mengadu-domba antara seorang dengan yang lain). Dan jangan membalas atau mengganggu pada orang yang mengganggumu. Dan maafkanlah orang yang aniaya padamu. Dan berilah pada orang yang bakhil padamu. Dan berlakulah baik pada orang yang jahat padamu.
Dan sebaik-baik manusia akhlak budi pekertinya ialah yang sempurna imannya. Dan siapa yang tidak berilmu, maka tidak berharga di dunia dan akhirat. Dan siapa yang tidak sabar, tidak berguna ilmunya. Siapa yang tidak dermawan, tidak mendapat keuntungan dari kekayaannya. Siapa tidak sayang sesama manusia, tidak mendapat hak syafaat di sisi Allah. Siapa yang tidak sabar tidak mudah selamat. Dan siapa yang tidak bertakwa, tidak berharga di sisi Allah. Dan siapa yang memiliki sifat-sifat ini tidak mendapat tempat di surga.
Berzikirlah pada Allah dengan hati yang hadir (khusyuk), dan berhati-hatilah daripada lalai, sebab lalai itu menyebabkan hati beku. Dan serahkan dirimu pada Allah, dan relakan hatimu menerima bala ujian sebagaimana kegembiraanmu ketika menerima nikmat, dan kalahkan hawa nafsu dengan meninggalkan syahwat.
🔹 Tentang Bersandar pada Amal Usaha
1. Akibat Bersandar pada Amal
Setengah dari tanda bahwa seseorang itu bersandar pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan/dosa.
Kalimat "Lā ilāha illallāh" (Tidak ada Tuhan selain Allah) mengajarkan bahwa tidak ada tempat berlindung, berharap, dan meminta pertolongan kecuali kepada Allah. Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah.
Sedangkan bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada kurnia rahmat Allah yang memberi taufik hidayah kepadanya, yang akhirnya ia ujub (bangga diri), sombong, merasa sempurna diri.
Contoh yang terjadi pada Iblis ketika diperintah bersujud kepada Adam, ia berkata: "Aku lebih baik daripada dia (Adam)."
Kalimat "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" (Tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan, dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah dan karunia rahmat-Nya) mengajarkan kita untuk selalu bersandar pada rahmat-Nya semata-mata.
2. Keharusan Tidak Menyekutukan Allah
Apabila kita menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufik hidayat dan karunia Allah, maka itu adalah kesyirikan.
3. Teladan Nabi Sulaiman as.
Kita harus bertauladan pada Nabi Sulaiman as. ketika ia menerima nikmat karunia Allah, ketika mendapat istana Ratu Bulqis. Ia berkata:
Maka siapa yang bersyukur, maka syukur itu untuk dirinya. Dan siapa yang kufur, maka Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Pemurah (tidak berhajat sedikit pun dari makhluk-Nya, bahkan makhluklah yang berhajat kepada-Nya). (An-Naml: 40)
🔹 Tentang Keinginan dan Usaha (Kasab)
4. Keinginan untuk Tajrid (Melepas Dunia)
Keinginan untuk tajrid (melepas diri dari urusan dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha (kasab) untuk mendapat kebutuhan sehari-hari, maka keinginanmu itu termasuk syahwat hawa nafsu yang samar (halus).
Sebaliknya, keinginanmu untuk berusaha kasab padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang melulu ibadah tanpa kasab, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat dan tingkat yang tinggi.
5. Kewajiban Seorang Hamba
Kewajiban seorang hamba adalah menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Tuhan Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan baginya dan yang menyusahkannya.
6. Tipu Daya Setan
7. Tentang Meninggalkan Usaha Kasab
Beberapa orang telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berusaha (kasab), sehingga akhirnya akhlaknya buruk. Maka tinggalkanlah apa yang ditinggalkan oleh kasab itu, dan jangan kembali kepadanya.
8. Nasihat untuk Orang yang Sibuk dengan Ilmu Zahir
Seorang murid merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu zahir dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tidak mungkin. Lalu ia pergi menghadap gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, guru itu bercerita:
"Ada seorang terkemuka dalam ilmu zahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, ia datang kepadaku dan berkata: 'Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalanan ini.'"
Jawabku: "Bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetap dalam kedudukanmu, sedangkan apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu."
🔹 Tentang Kerajinan dan Kewajiban
9. Kekerasan Semangat Tidak Menembus Takdir
Kekerasan semangat/perjuangan tidak dapat menembus tirai takdir. Segala apa yang terjadi semata-mata dengan takdir Allah.
10. Jangan Risau Mengatur Rezeki
Istirahatkan dirimu/pikiranmu daripada kerisauan mengatur kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah dijamin/diselesaikan oleh selainmu (Allah), tidak usah kau sibuk memikirkannya.
11. Dua Hal Penting
Kerjakan apa yang menjadi kewajibanmu terhadap Kami, dan Kami melengkapi bagimu bagian Kami. Di sini ada dua hal:
- Yang dijamin oleh Allah, maka jangan berprasangka buruk (su'udzan) terhadap Allah.
- Yang dituntut oleh Allah, maka jangan kau abaikan.
Semoga terjemahan dan nasihat dari kitab Al-Hikam ini bermanfaat bagi kita semua dalam mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.
Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.
Sumber: Terjemahan Al-Hikam oleh Al-Ustadz H. Salim Bahreisy
Disusun ulang untuk kepentingan dakwah dan pembelajaran.